Akulah Si Sophis!

Sabtu, 18 September 2010

Kisah Paru Dan Sayuran Yang Punya Satu Korban

Ini bukan menyangkut masalah kesehatan, lho. Bukan juga membahas tentang enaknya paru dan sayur mayur! Tapi, ini adalah pilihan makanan apa yang saya mau makan!

Siang itu, saya ngidam banget sama paru masakan Padang di seberang kantor. Sebelumnya, saya juga sudah janjian dengan beberapa teman kalo hari itu akan balik lagi ke rumah makan itu untuk menyantap paru.

Karena sehari sebelumnya, kami tidak berhasil melahap paru. Penyebabnya, kami datang terlalu awal dari jadwal makan siang. Alhasil masakan pun belum komplit!!!



Rencana itu hampir saja rusak! Pasalnya, salah seorang "rekan kerja" saya tiba-tiba setengah mendesak untuk makan bareng dia. Sementara, dia ngidam sayur! Saya ngidam paru! Anehnya, kok dia tetap, sih, mencari celah untuk ngikutin maunya dia itu!

No, no, no!!! Perut-perut saya! Lidah juga punya saya, masa dia yang ngidam saya disuruh ngikutin juga! Saya tetap bersikeras untuk makan paru! Yah, daripada enggak enak, sambil basa-basi, saya ajak aja dia makan di Padang. Masih mending ,lho, daripada saya kabur diem-diem ninggalian dia sendirian. Hehehe...

Niat saya ngajak beneran udah ada, lho. Tiba-tiba ada seorang teman menelpon. Karena enggak enak jawab di ruangan, saya bergegas ke ruang tangga darurat. Di situ saya bisa ngobrol sambil teriak-teriak, ketawa ngakak dan guling-guling (Lebay!)

Enggak terasa. udah hampir jam 12. Saya janjian jam 12 kurang 5, segeralah saya mengakhiri telepon. Dan uups, hampir saja saya ditinggal teman-teman ke resto Padang. Saya langsung mengambil uang dan berniat mengajak si "rekan kerja ini". Lho, bangkunya kosong???

Hehehe, saya beruntung! Mungkin dia memang beneran kebelet makan sayuran. Jadinya, dia yang ninggalin saya! Enggak masalah, kok. Akhirnya, dengan hati riang gembira, saya dan teman-teman menuju resto Padang.

Lagi enak-enaknya menyendokkan suapan pertama, bb saya bunyi! Plus dengan getaran-getaran yang saya pikir adalah URGENT! Hohoho, rupanya teman saya. Dia kirim bbm dengan nada memelas. Kira-kira seperti ini bunyinya,

"Nis, plis temenin gue makan di Ampera. Gw enggak mau berdua, pasti bakal garing, plis, Nis!"

Hihihi, rupanya si "rekan" saya itu mencari korban lain. Hohoho, dan teman saya enggak bisa nolak. Ya, ampun saya enggak bermaksud begitu , sih!

Akhirnya saya bilang, "Wah, maap, yah, tadi doi udah duluan pergi dan gw enggak mau nurutin dia makan sayuran di Ampera. Gw ngidam PARU!"

Temen saya bales lagi, "Yah, elah Nis, di Ampera kan juga ada paru! Ayo, dong! Tega banget deh, lo! Loe kabur moso gue yang dijadiin korban."


Selesai membaca, saya cekikikan. Sumpah, saya enggak bermaksud menjadikan teman saya itu korban! Hanya saja, kali ini, saya lebih beruntung! "Rekan" saya ini sudah ngabur duluan sebelum saya pergi resto Padang. Hehehe, apa boleh buat, saya berangkat dong, dengan teman-teman saya.

Yah, memang dasar saya juga enggak niat makan bareng "rekan kerja" ini jadi mau ada paru seenak apapun di Ampera, saya enggak tergoda! :p Kikikikikikik...



Nyam, nyam, puaaaaas banget siang itu makan paru! Hehehe, untuk teman saya, maafkanlah saya. Saya tidak bermaksud menjadikannya KORBAN! Lain kali, kita kabur bareng, yuk! Hihihi...

Dan semoga, di hari-hari berikutnya, saya bisa bebas menentukan makan siang saya tanpa harus selalu ada yang ngintil dan memaksa! Karena bebas itu asik euuy!

Maaf, lho kalo ada pihak-pihak yang tersinggung! MUdah-mudahan setelah membaca ini pihak-pihak yang terkait bisa memaklumi keadaan saya yang sudah bosan kemana-mana selalu diatur. Amiinnn... Hari itu saya PILIH PARU!!!! HOREEE!!!!

Kamis, 26 Agustus 2010

Modal Nekat Ke Pulau Dewata (4)


Huuft, tarik napas yang panjang, huaaah!Maaf penulisan perjalanan di Bali sempat terganggu sumpah itu bukan rekayasa, itu ungkapan kesedihan atas kejadian yang menimpa saya. Sekarang saya sudah sanggup untuk melanjutkan tulisan ini...

Yaah, bersama Anda dan Pak Ngurah kami menelusuri perjalanan ke Lovina. Kecepatan mobil saat tinggi padahal hujan tidak berhenti mengguyur. Perlahan rasa takut itu hilang karena Pak Ngurah terus berceloteh. Bawel sekali dia, tapi aseklah!

Jam 5 pagi kami sampai di Lovina. Oh my god, dingin! Hanya ada mobil kami saja, satu-satunya! Gelap semua, tidak terlihat pantai hanya debur ombak yang menggulung. Tiba-tiba, rombongan bule mulai berdatangan. Pasti mereka ingin melihat lumba-lumba juga!

Tepat pukul 6, para nelayan sudha siap dengan perahu yang akan membawa penumpang berkeliling mengejar-ngejar si lumba-lumba. Sempat, saya dan Anda mengurungkan niat! Habis mahal banget, 100 ribu perorang. Hmm...lirak lirik, akhirnya setuju dan berangkat!

Satu perahu itu hanya ada Saya, Anda, Si Nelayan, dan satu bule dari Rusia yang bisu (hahahah doi enggak mau diajak ngomong boo). Brrrr...ngeng...perahu berjalan menyusuri pantai pasir hitam. Celingak celinguk, saya dan Anda mencari lumba-lumba.

Di tengah laut, tiba-tiba saja kami melihat jukung (sebutan kapal nelayan) berkumpul dari berbagai arah! Waah ternyata penikmat lumba-lumba itu banyak dan berkepala pirang semua!!! No pribumi at all!!!

Sebenarnya, kalo dilihat-lihat lagi, pantai Lovina ini memang tidak seistimewa pantai yang ada di selatan pulau Bali. Ombaknya kecil, pasir hitam dan tidak keihatan sama sekali pemandangan di dalam air. Keruh, seperti air got! Tapi siapa sangka, makhluk cerdas itu tinggal di dalamnya, Si lumba-lumba Lovina.

Dan tak lama kemudian, Anda langsung berteriak, "Itu dia...aaaaaa...lumba-lumba..aaaaa." Benar-benar nih temen saya labil! Hahaha, walaupun begitu saya ikut teriak juga,lho. Habis jarang-jarang di kota lihat yang begini, segerombolan lumba-lumba muncul sambil melompat-lompat seolah-olah tahu kami adalah penonton yang haus pertunjukkan.

Begitu melihat sedikit saja badan lumba-lumba, semua jukung langsung mendekati arah itu. Entah ada berapa jukung! Mungkin lebih dari 20an, saling mengejar ke arah lumba-lumba. Makin lama lompatan itu makin tinggi, syuuut, byuuur! Perfect!!!! Lumba-lumba itu luar biasa dan manis.

Mamalia itu bak seorang artis ternama, semua kamera tertuju padanya. Termasuk kami, mengambil pose dari berbagai sudut sambil teriak kegirangan. Dan si Bule hanya bermuka datar, melihat tingkah laku kami yang agak norak. Hahaha, mungkin si bule ingin teriak juga cuma dia mupeng enggak ada temennya, wikiwkikiiki.

Sesekali, kami mendengar suara lumba-lumba itu berteriak, ciiiit...ciit. Selain melihat lumba-lumba, saya memperhatikan alam di pantai Lovina. Bisa dibilang indah! Tapi memang belum bisa mengalahkan pantai-pantai selatan di Bali.

Jejeran dataran hijau, berupa hutan dan bukit mengelilingi pantai yang hitam pekat. Simbol khas, patung Singaraja, patung lumba-lumba pun tampak dari tengah pantai. Aah, Bali memang luar biasa.

Saking luar biasanya, saya masih exited berada di jukung. Semakin matahari meninggi, aktifitas lumba-lumba mulai berkurang. Saya dan Anda mencoba sibuk sendiri di jukung dan terus berfoto. Saya pun nekat berdiri seperti pose Kate Winslet di film Titanic. Angin terus menerpa, menambah suasana makin mirip dengan film Titanic, hihihi. entah ratusan foto yang sudah kami buat yang jelas kami benar-benar dibuat larut oleh Lovina dan penghuninya, si lumba-lumba.

Lumba-lumba pun itu akhirnya tak terlihat lagi. Pas jam 8, kami menuju daratan untuk segera melanjutkan perjalanan. Puas juga keliling pantai selama 2 jam dengan tarif kurang lebih 100 ribu rupiah.

Wiiiw selamt tinggal Lovina, tujuan kami selanjutnya adalah Bedugul. Karena waktunya mepet, kami tidak sempat sarapan. Hanya membeli beberapa snack di indomart dan menghabiskannya di mobil.

Daerah utara Bali ini penuh dengan bukit dan jalan terjal, berkelok. Seram tapi indah! Dan, sering berkabut. Lama-kelamaan pun hujan! Yak, hujan deras, sempat membuat kami putus asa. Mungkin enggak, yah, melihat Danau Bedugul. Huuft, kali ini kami belum seberuntung saat ke Lovina, kabut tebal turun dan hujan di Bedugul. Batal sudah kami ke sana.

Dengan sedikit rasa kecewa, kami memutuskan untuk bermain ke Water Sport, Tanjung Benoa (hehe sebenarnya, saya sih, yang lebih pengen!) Huaa, langsung terngiang-ngiang, bermain apa itu namanya, tiduran di atas pelampung bebrbentuk ikan pari lalu terbang di atas pantai, melayang selama beberapa saat! Seruuuuu!!!!!

Sayang seribu sayang, partner saya enggak berani ikutan! Jadilah saya putuskan untuk mencoba sendiri! Ya sudahlah mau diapain lagi, inilah yang saya idam-idamkan jika saya ke Bali. Dan saya tidak mau melewatkan itu.

Setengah ngeri dan deg-degan, takut kenapa-kenapa, saya pasrah sajalah. Yang penting bisa terbang kayak yang saya lihat di tipi-tipi, hahahaha. Jadi, pulang-pulang, saya enggak norak lagi dan bisa berbagi cerita seru!

Wuiiih, ternyata sereeeem juga, lho! Kalau saja, saya tidak kuat memegang tali pengaman, byuuur saya langsung nyemplung ke laut! Jantung ser-ser-an!!! Si mas mas alay gaya pantai itu ketawa ketiwi cekikikan, melihat saya tegang. Aah, bodo amat yang penting have fun!

Terus apa yang dilakukan si Anda? Haduuh, dia memang doyan dipermalukan! Moso, dia teriak-teriak di tengah pantai sambil memanggil nama saya berulang kali. Seolah-olah saya ini korban yang lagi kelelep di tengah pantai. Padahal saya lagi melayang di udara di ketinggian 15 meter kira-kira! Hahaha...

Petualangan masih belum berhenti, nih. Karena saya dapat harga murah untuk dua kali naik, maka jadilah saya naek pelampung berbentuk donat. Yang ini benar-benar menyiksa! Ogah aah naik lagi! Seperti dibanting lalu dihempas!!! Andai saja saya tidak kuat memegang pegangan di donat itu, hmm saya yakin terlempar ke dalam laut biru di Tanjung Benoa, hiiiii.

Selasa, 24 Agustus 2010

Modal Nekat Ke Pulau Dewata (3)

Wuaaah, tertunda sekian bulan lamanya! Saya berjanji untuk melanjutkan kisah selama di Bali! Dan Baru sekarang terwujud!!! (mudah-mudahan kelar hehehe)

Yak, singkat kata, hari kedua jam 2 lebih shubuh-shubuh saya dan Anda sudah mulai melek. Bahkan si Bunga pun ikut-ikutan membangunkan kami. Takut kebablasan, katanya. Seradak seruduk, pas jam 3.15 shubuh, kami selesai berbenah.

Sambil menunggu si supir GAOOLL, Pak Ngurah, kami agak cemas. Menit demi menit terlewati, si bapak ini tak kunjung datang. Wah, jam 3.30, barulah kelihatan wujudnya! Benar-benar Bali. Hahaha, Bunga pun dengan tenang melepas kepergian kami yang sangat lebay itu! Pagi buta ke Lovina cuma mau liat lumba-lumba pamer badan dan loncat-loncatan.

Baru 5 menit berjalan, byuuur, hujan deras!!! Alamak, pagi buta, gelap gulita, menembus hutan belantara diiringi hentakan keras hujan, benar-benar seperti dalam adegan menghadapi peperangan.

Mulailah berimajinasi, kalo tiba-tiba saja ada perampok, mencegat! Aaargh, habislah sudah hidup kami di Bali. Uuups, itu hanya khayalan!

Perjalanan.....(tiba-tiba saya terhenti menulis..sesuatu membuat saya menangis!!!)
Aaarghh...teman-temanku dan temannya..terlalu sayang sampai reaksinya pun pro dan kontra...dan ini lagi-lagi tentang Bali....

Saya terharu...sekaligus mikir, apakah saya akan juga sebegitu diperhatikan mereka jika saya pergi?

Sudahlah...saya tidak bisa melanjutkan kata-kata lagi....Semoga teman saya itu selamat dan membawa hasil yang baik dari Bali dan untuk teman-teman yang lain semog abisa menerima kepergiannya dengan ikhlas...dan mendoakan yang terbaik... aminnn

Minggu, 27 Juni 2010

Modal Nekat Ke Pulau Dewata (2)



Hari itu, tersenyum-senyum, sambi membayangkan hamparan pantai yang lebih dari indah! Lagi-lagi, bayangan indah itu harus terganggu. Kali ini, babe saya yang membuat pikiran ini tidak konsen, kacau malah!

Si babe jam 5 pagi telpon, sebelum saya berangkat. "Pesawat jam berapa? Banyak-banyak baca doa yah, bapak mimpi kamu digigit buaya!," kata babe penuh rasa cemas. Waduuh!!! "Akankah saya mati di Bali?" Pertanyaan itu yang pertama muncul setelah menutup telepon. Husssh, langsung saya buang jauh-jauh pikiran busuk itu. Semoga itu hanyalah mimpi, sebatas bunga tidur. Mungkin babe saya kala itu lupa baca doa, jampe-jampenya kurang pol dan enggak kayak biasanya, :p.

Kegelisahan pun mulai menghampiri. Kita bertiga janjian di Damri Blok M jam 11. Jarum jam sudah memperlihatkann tepat pukul 12 siang teng! Si gadis labil, Bunga, belum tampak juga! Ngek ngok...

Ggggr, deg-degan. Pesawat jam 14.10 harus cek in minimal jam 12.50, kalau enggak, kita harus beli tiket baru. No, no, no, jangan sampe kejadian. Solusinya? Tinggalkan si Bunga alias ngebiarin dia nyusul dan saya sama Anda berangkat duluan ngejar check-in. Mimipi babe saya sedikit teringat lagi. Huuhuhu, apakah ini pertanda sesuatu?

Nah, ada lagi nih, yang bikin jantung kebat-kebit. Check-in di Air Asia harus pake KTP! Padahal tiket itu namanya bukan atas nama kita. Sebenarnya saya, sih, biasa aja, asal belaga santai dan cool, toh, kita juga megang KTP asli yang namanya tertera di tiket. Temen saya ini,loh, yang grogi abis, si Suranda. Pucet maksimal. (Hihihi, usut punya usut ternyata dia baru pertama kali naik pesawat makanya grogi).

Sambil bergaya sok cool, saya langsung check-in! Tidak lupa saya bilang, mba temen saya masih di jalan, yah. Tiba-tiba si mbak petugas nanya, " Temen kamu yang namanya siapa?" Toeng!!! Saya mikirnya agak lama. Hehehe sambil ingat-ingat nama yang tertera di KTP! Hufft untung saja berhasil, saya sebut nama Fransisca Maya (KTP yang dipegang Bunga) hahaha. Alhamdulillah lolos, yipiiiiieee!!!

Asal tahu aja, nih, yang namanya Fransisca di KTP itu bermata sipit sedangkan Bunga matanya Bali banget, gede ajah! Kulit Bunga juga coklat hitam, nah, si pemilik KTP itu putih banget. Tapi lolos-lolos aja, alhamdulillah. Kalo diinget lucu juga!

Tapi, masih deg-degan nih, nunggu si Bunga. Dan, weiits jam 1 lewat sekian datanglah dia. Lengkaplah kita bertiga mengawal perjalanan fantastis dan sadistis ini walaupun sebenernya saya masih terngiang-ngiang mimpi babe.

Perjalanan pun dimulai, mulut saya komat-kamit baca doa. Semoga selamat sampai tujuan (hehehe doa yang standar) sementara itu si Anda kalo enggak punya malu, dia teriak saking takutnya. Huufh, untunglah saya dan Bunga tidak jadi dibuat malu dengan pengalaman pertamanya naik pesawat.

Dan akhirnya, sampai juga di Bali. Asyiiiiik!!! Bunga dijemput sang kakak, saya dan Anda enggak mau menyia-nyiakan waktu sedikit pun. Kami berpisah dan pergi ke Discovery Mall. Tujuannya, mau lihat sunset,sayang, keburu gelap. Dan tampaknya, Anda kecewa dengan pantai Kuta. Katanya, kok jelek, yah? Bagusan pantai Anyer. Yah, begitulah Kuta. Terlalu biasa dan mungkin terlalu populer sampai keindahannya itu hanya sebuah cerita (buat saya sih begitu!)

Nah, lebih asyik, nih foto-foto di sekitar Discovery Mall. Menjelang malam, pemandangannya cantik. Permainan lampu-lampu sorot itu mengalahkan keindahan pantai Kuta. Memang pas rasanya, bersantap malam sambil menikmati view di malam hari ditemani suara ombak. Hehehe, tapi kami milih makan di Solaria di lantai 2. (Gubrak, jauh-jauh ke Bali makan di Solaria :p)

Solaria yang ini beda, lho! Dari sini saya bisa lihat pemandangan di luar. Cantik dan apik! Langsung saja, saya pesen makanan yang berbau seafood. Hmm, cuminya benar-benar lembut. Sekali gigit, langsung bersahabat dengan gigi. Ditambah lagi bumbunya renyah dan gurih, sama sekali enggak menyisakan bau amis. Mantab, deh!

Setelah kenyang, kami lanjutkan pengembaraan ini untuk keliling Kuta dengan berjalan kaki. Kami hanya berjalan sesuai kata hati. Dan tiba-tiba saja kami sudah muncul di Hard Rock Hotel Bali. Lumayan, deh pegel! Makanya istirahat dulu sejenak.

Nah, dari sini kami mulai bingung. Kemana yah? Patokan yang dikasih tahu Bunga adalah Ground Zero. Yah, sudah, jalan saja mengikuti arah sambil tanya sana-sini. Eh, kami lihat di sepanjang itu ada gang kecil, Gang Poppies. Beloklah ke arah sana. Wah, rupanya gang ini penuh dengan orang jualan pernak-pernik Bali. Dari topi, baju, sampe asesoris, lengkap! Tapi, sedikit ganjen, nih, orang-orangnya! Ada yang nawarin saya digendong malah! "Hei, adek kecil, capek, yah? Sini abang gendong," kata si penjual ke saya (mentang-mentang saya kayak anak sekolahan). Bodo aah!

Lanjutkan perjalanan. Nah, semakin ramai saja, ini gang! Wuiiih, padat merayap, kanan kiri penuh toko bahkan rental mobil! Tentu saja bule-bule yang mondar-mandir, naik mobil, motor, adapula yang telanjang dada bawa alat surfing! Wah, suasana ini terlalu padat dan sumpek buat kami. Di Jakarta banyak yang model begini!

Ujung jalan ini tak kunjung terlihat sampai kami mulai putus asa. Ada di mana kami? Sambil terus berjalan, mencoba berharap ada ujung atau jalan raya karena kami memutuskan untuk pulang saja ke rumah Bunga di Denpasar. Nah, tiba-tiba kami sampai ke jalan raya dan melihat Ground Zero! Wah, luar biasa! Sejenak berfoto-foto dan memperhatikan beberapa orang lokal yang mmulai sok kenal sok dekat dengan bule-bule. Aaarghh, sungguh aneh percakapannya, "Hei mister, nice body, yah!". Duh, ileh si mas alay ini! Tapi, hiburan juga sih. Hahaha.

Hari pertama pun selesai, kami pulang naek taksi Blue Bird (satu-satunya taksi yang berani kami tumpangi di Bali)! Begitu sampai, langsung basa-basi dikit sama keluarganya Bunga. Hahaha, kocak juga keluarganya! Apalagi kakaknya, ternyata tahu daerah Ciledug, tempat saya tinggal. Malahan dia kenalan sama cewe yang sekolah di SMU Budi Mulia, oh, oh, mungkinkah ini tanda-tanda labil juga? Hehehe.

Tidak banyak lagi yang kami lakukan selain bergegas tidur karena hari kedua, perjalanan dimulai jam 3 pagi! Huaaa, dahsyat! Mau kemana, yah?

Rabu, 16 Juni 2010

Modal Nekat Sampai di Pulau Dewata


"Pikirkan apa yang kamu mau, alam semesta akan menarik pilihanmu dan menjadi nyata, seperti hukum tarik-menarik!" Nah, kata-kata inilah yang pernah saya baca dan akhirnya benar-benar terbukti. Saya alami sendiri!!! Berlibur di pulau Dewata.

Bukan sulap dan bukan sihir, hehehe, saya sampai tidak percaya! Melancong ke Bali dengan uang hasil keringat sendiri, memang sudah saya rencanakan sejak akhir tahun 2009. Mimpi itu terus saya pelihara hingga akhirnya Tuhan memeluknya menjadi sebuah kejutan yang indah. 31 Mei 2010 hingga 3 Juni 2010, saya, Anda, dan Bunga pergi meninggalkan Jakarta.

Memang benar, semakin besar mimpi kita, semakin besar pula tantangannya! Karena itu juga saya beri judul "Modal Nekat Sampai di Pulau Dewata". Ajakan yang menggoda itu datang dari Anda. Malam-malam, ia memohon dengan penuh harap supaya saya ikut menggantikan Iboy. Duh! Entah kenapa, saya mengiyakan! Kerja belum genap setahun, jatah cuti pun belum ada, bagaimana mungkin? Ah, tapi saya nekat! Rasanya seperti ada bisikan setan yang menyerupai malaikat untuk tetap mencoba!!!

Keesokannya, saya sudah mempersiapkan sejuta alasan supaya diijinkan, hehehe. Ada yang bilang, "Udah ijin ajah, ada sodara yang kawinan di Bali!". Nah masalahnya, saya enggak punya bakat keturunan Bali, keturunan Jawa tulen!!! Mana percaya, yah? Hahahaha.

Belum sempat, saya mengeluarkan kata-kata, undangan mampir ke meja kerja. Oh, NO!!! Training tanggal 2-3 Juni 2010!!! Lemas, lunglai, hancur!Langsung saya beritahukan ke Anda. Sepertinya, saya seperti memberikan tamparan buatnya! Hahahaha...Selesai sudah...mimpi itu.

Akhirnya, saya curhat sama 'editor'. Saya dapet tiket murah Air Asia, 300 ribu PP buat ke Bali. Sambil tak berharap apa-apa lagi. Jegeeeer!!! Saya seperti disambar petir! Tiba-tiba dia bersedia menggantikan saya training dan membiarkan saya bercengkrama dengan mimpi indah itu lagi. Tanpa ragu lagi, saya telepon tuh, teman saya yang baru saja saya 'tampar', hehehe. Bukan main, dia sungguh lebay, pakai acara nangis lagi di metro mini! Buseeet dah, malu Nda! Katanya, "Ah, biarin yang penting jadi ke Bali!"

Aaaah perjalanan panjang meraih Bali! Sampai akhirnya, kabar yang kurang menyenangkan datang lagi. Dabu enggak bisa ikut join! Huaa, Anda sangat amat kecewa tapi saya tetap enggak mau berhenti...Bali harus dituntaskan!!!!

Singkat cerita, Allah mengirimkan pengganti Dabu yang memang masih labil, Bunga. Hahaha, tapi berkat dia juga kita selamat di Bali. Hihihi, bisa numpang ngerepotin di rumahnya! Makasih ya, gadis labil yang suka lagu asal kampungnya, Nehi...Nehi...

Dan siang itu, hari Senin saya mulai lembaran menuju Bali!!! Berjalan muluskah? Ikuti kisah selanjutnya!!!! Hahahaha, berasa bikin film inih...