Akulah Si Sophis!

Sabtu, 23 April 2011

Hello Singapore!

Lama tidak menulis blog, kangen dan rindu layaknya merindukan kekasih. Hehehe...

Banyak sekali tulisan yang mau saya tuangkan. Cerita tentang liburan bersama Genk Galau, keluarga dan masih banyak lagi.

Tapi, kali ini, saya akan mulai dengan berbagi cerita liburan di Singapore, 2-5 April 2011. It was awesome!

Sudah dari setahun yang lalu, saya berangan-angan ke Universal Studio Singapore. Akhirnya, kesempatan itu datang juga!

Tentunya berbekal tiket murah dari Tiger Airways dan Air Asia. Plus, bujuk rayuan dari setan-setan kecil yang tak lain adalah Genk Galau, Shanti dan Anggi. Hehehe...



Hari keberangkatan pun tiba. Tepat Hari Sabtu, saya berangkat sendiri dari Jakarta. Shanti, Anggi dan Sekar menyusul malam harinya.

Hmm, saya deg-degan, bukan karena pertama kalinya ke Singapura tapi karena sendirian terbang. Duh, campur aduk, antara senang dan parno!

Saya juga parno kalau berhadapan dengan imigrasi terutama kalau sendirian. Enggak tahu, kenapa! Mau tidak mau saya harus berani. Dan wuussshh, jadilah terbang sendirian.

Perjalanan selama satu setengah jam menuju Singapura. Saya sibuk mengambil foto. Tergoda juga untuk pesan makanan. Eh, batal gara-gara menunya mengandung pork semua, lagipula pramugari itu melewatkan saya begitu saja tanpa bertanya mau pesan atau tidak.

Tak terasa, sampailah di Singapura tepatnya di Terminal Budget, Changi Airport bukan di Terminal Internasional yang terkenal dengan keindahan bunga-bunga anggrek bewarna ungu.

Terminal Budget memang dikhususkan untuk penerbangan murah meriah dan terpencil dari terminal internasional yang lebih kece itu. Tapi tempatnya enggak murahan, kok, kira-kira mirip Terminal 3 Soekarno-Hatta hanya saja lebih kecil.



Tanpa pikir panjang, saya ingin cepat-cepat menuju Apartemen di Tanjong Pagar. Tapi, kok, enggak ada tanda-tanda MRT, yah?

Ow, rupanya, saya harus naik bis (fider bus) menuju terminal 2, supaya saya bisa naik MRT.

Benar-benar kagum melihat Singapura. Transportasi begitu sangat diperhatikan meski dari terminal khusus penerbangan murah sekalipun.

Terakhir saya ke negeri singa tahun 2007 dan ketika saya kembali tidak banyak yang berubah. Tetap bersih, rapih, teratur. Membuat saya betah!

Apartemen Super Canggih

Dari bandara menuju Tanjong Pagar butuh waktu kira-kira 45 menit. Untung saya dibekali kartu EZ link oleh ibu, jadi tak usah repot-repot membeli tiket MRT.

Setelah duduk manis di MRT, saya langsung mencoba mengaktifkan IM3. Wow, berhasil! Tapi, sayang, pulsa sms ke Jakarta mahal banget, 4 ribu sekali kirim dan pulsa untuk aktifasi bb tidak bisa dipakai.

Begitu sampai di Tanjong Pagar, saya langsung ikuti petunjuk jalan menuju apartemen. Letaknya persis di dalam International Plaza lantai 47.

Wah, enggak percaya, bisa juga travelling sendirian. Saya pun berdiri tepat di kamar yang Anggi telah booking.

Si enci pemilik apartemen segera memberi petunjuk lewat sms. Untuk bisa masuk ke kamar saya harus menekan tombol rahasia yang ada di pintu. Begitu tutup tombol dibuka langsung keluar perintah memasukkan kode.

Keren banget, yak, walaupun apartemennya kelihatan sederhana seperti rumah susun tetep pengamannya pakai tombol. Mungkin kalau di Indnesia sudah tinggal nama, nih, alat.

Begitu dimasukkan kode, pintu tidak mau terbuka! Astagfiruloh, jangan-jangan ke blokir, nih! Mati, deh!

Saya pun panik sambil menekan berulang-ulang kodenya. Tetap tidak berhasil.

Wah, saya sms si enci juga enggak ada balesan. Ahh, jangan-jangan si Anggi ditipu. Ah, sekujur tubuh lemas. Saya duduk kayak orang bego di depan pintu.

Setengah jam kemudian, hape saya bunyi pertanda ada sms. Aaah, si enci minta digetok, deh. Rupanya, dia yang salah kasih kode. Gggrr. Cepat-cepat, saya masukkan kode baru dan yeaay, berhasil.

Saya langsung menuju kamar. Wah, lumayan, kok. Kamarnya bersih, ada AC, dan TV. Satu ruang apartemen ini terdiri dari 4 kamar, satu kamar mandi luar, sebuah dapur yang dilengkapi dengan makanan camilan, free, lho.

Penjual Lebay

Setelah beristirahat sejenak, saya bergegas menuju Lucky Plaza yang ada di daerah Orchard. Hanya dua stasiun atau 15 menit dari Tanjong Pagar. Langsung saya mencari simcard rekomendasi dari Sekar yang judulnya Starhub!

Resah memang kalau BB enggak aktif. Akhirnya, saya beli sekaligus 4 kartu. Harganya masing-masing 25 sing. Untuk mengaktifkan bb selama tiga hari pulsa yang dipakai 15 sing dan sisanya, 10 sing bisa dipakai untuk pulsa sms atau telepon.

1, 2, 3 ting, horeey bb pun aktif. Sambil menunggu simcard yang lain, saya ngobrol dengan penjual yang kelihatannya orang melayu tapi berbicara dalam Bahasa Inggris.

Dia bertanya,"Where do you live?"
Saya jawab,"Ow, in Tanjong Pagar, Intenational Apartement."

"Wats???? Oh, My God!!! Gosh! It's so far, you know," kata si penjual dengan penuh kaget.

Saya pun heran,"Heh??? So far? Its only 15 minute by MRT, you know." Hehehe saya balikin lagi.

"Hei, you can buy simcard Singtel in Tanjong Pagar but there's no Starhub." kata penjual sambil terheran-heran.

"That's way I go to here!" jawab saya cepat.

Hahaha, dalam hati saya mau tertawa ngakak. Lebay, sungguh lebay si penjual.

Gileeee, cuma 15 menit saja dibilang jauh, apa kabar kalau si penjual ini hidup di Jakarta. Bisa mati berdiri dia melihat kemacetan.



Setelah urusan simcard selesai, saya menuju tempat favorit buat makan, lantai dasar Lucky Plaza. Keroncongan bukan main ini perut. Bayangin saja, karena stres mau pergi sendiri, dari pagi saya enggak sempet sarapan.

Mata pun langsung tertuju pada makanan Indonesia. Ayam goreng crispy plus nasi uduk dan sambal, eunaaak tenan! Yah, kalau di Jakarta bisa dapat 10 ribu, di tempat ini kira-kira 5 sing = 35 ribu.

Setelah puas makan, saya segera membeli titipan Ibu, bodyspray Victoria Secreet. Mmm, sudah enggak semurah dulu, yah. Tapi, saya dapat harga yang paling murah yaitu, 18 sing. Langsung saja saya beli 3 botol, hehehe.

Sudah hampir jam 9 malam, saya putuskan kembali ke apartemen. Ini rasanya seperti bukan jam 9 malam. Ramai sekali di Orchard malam minggu. Mereka seperti tak punnya tempat hiburan selain mengunjungi tempat belanja. Kasihan...

Tas saya hilang????? Koper saya di mana????

Serem juga sendirian sampai apartemen. Tidak ada penghuni lain, selain saya. Saya langsung lari ke kamar. Ya, ampuuuuun!!!! Kamar saya terbuka! Sprei berantakan, koper saya raib!

Aah, mau pingsan. Cenat-cenut rasanya. Harta benda yang ada di koper cukup penting. Charger kamera, handycam, aaah. Jangan-jangan perampoknya masih ada di dalam apartemen.




Saya masuk ke kamar satu persatu. Sial, ada kamar yang dikunci. Saya buka lagi kamar yang dipojok kanan. Ah, terbuka! Betapa kagetnya saya. Oh, tidak, itu dia koper saya.



Hahaha, ternyata saya salah kamar. Si enci memindahkan koper saya ke kamar yang benar. Lebih luas, bersih, dan ada kamar mandinya. Yihaa, saya pun berseri-seri lagi. Konyol sekali!



Hampir jam setengah sebelas malam tapi rombongan belum datang juga. Bunyi MRT sampai terdengar ke kamar. Horor! Enggak ada siapa-siapa. Saya putuskan untuk menunggu mereka di bawah, persis di pintu keluar stasiun MRT.

Aaah, lega, akhirnya mereka datang juga! Ahaaa, heboh, deh. Saya sambut kedatangan mereka dengan handycam.

Kelakuan narsis pun langsung terekam. Hehehe, kalau yang ini memang susah dikendalikan. Kami putuskan malam itu tidak hang-out.

Tanjong Pagar ini terasa amat sepi. Meski banyak gedung-gedung bertingkat, tapi jauh dari keramaian seperti di Orchard. Beruntunglah kami ada di sini. Kalau tidak, pasti kami akan kelayapan sampai pagi.



Hari itu pun berakhir di McD. Kami tertegun melihat McD yang penuh dengan remaja-remaja dan orang kantoran.

Mereka bukan sekedar kongkow! Remaja-remaja itu sepertinya mahasiswa dan mereka sibuk belajar. Buku-buku bertaburan di meja. Ada yang sibuk mencatat, menulis, komat-kamit menghapal materi.

Hari itu adalah weekend, di mana orang-orang bersantai tapi di Singapura tidak juga begitu. Orang-orang kantoran pun seperti terlibat dalam meeting serius. Hanya, kami orang Indonesia yang sibuk ketawa-ketiwi sambil memperhatikan perilaku mereka.

Hehehe, tak ketinggalan kami pun tetap bergosip melihat penampilan mereka yang memang mirip alay kalau di Indonesia.

Rambut dicat warna-warni dengan belahan ala Justin Bieber. Bedanya, mereka putih dan terlihat terdidik. Nah, kalau di Indonesia? Simpulkan saja sendiri, wwkwkwkwkwkw.

Begitulah malam pertama di Tanjong Pagar. Masiha ada tiga hari lagi untuk menikmati Singapura. Tunggu cerita selanjutnya, di hari kedua, yah!

Senin, 28 Maret 2011

Akhirnya Ada yang Kritik!

Beberapa hari yang lalu saya masukkan sebuah tulisan di blog dan di facebook berjudul Si Muka Penasaran. Motivasinya satu, mau tahu pendapat teman-teman saya tentang tulisan saya itu.

Awalnya, saya agak ragu untuk membuat copy-an tulisan itu di notw dan meng-tag ke beberapa teman. Kenapa? Karena saya tahu tulisan itu agak narsis, hehehe. Tapi setelah dipikir-pikir kenapa musti ragu-ragu, toh ini juga menjadi bagian penilaian buat saya. Perkara nanti ada yang remove dan enggak suka, ya, sudah terima saja, kan orang bebas berpendapat.

Dan satu persatu, saya mulai meng-tag note itu di facebook. Deg-degan! Perlahan-lahan komentar masuk satu persatu. Alhamdulillah positif, hampir semuanya merasa terhibur. Tenanglah hati saya saat itu.

Beberapa hari kemudian, masih saja komentar berdatangan dan ada seseorang yang tidak saya tag, ikut berkomentar.

Jreng! Kaget!!!!! Saya pun bengong baca komentarnya, akhirnya ada juga yang enggak suka dengan tulisan saya. Wow! Sejenak saya kecewa, eits tapi saya langsung sadar. Hak dia untuk berpendapat, bukan?

Mungkin yang membuat saya kaget karena komentar itu datangnya dari orang yang saya kenal. Seandainya saya tidak kenal pasti saya biasa saja.

Lucu juga kalau dipikir-pikir, wong dia enggak saya tag, eh dia merasa terganggu. Hahaha, maaf, lho, tapi sebenarnya saya sudah memperingatkan di awal bacaan, bakal mual kalau baca tulisan berjudul Si Muka Penasaran.

Rupanya dia tetap penasaran! Hahaha, yah, sekarang saya sudah merasa lega. Setidaknya dia ikutan penasaran dengan tulisan itu. Terima kasih atas kritik dan kepeduliannya. Salam peace and gaul, yah!

Kamis, 24 Maret 2011

Si Muka Pasaran

Wohooo, sebelum kalian memutuskan untuk membaca tulisan saya yang satu ini, siapkan kantung plastik! Lho, kenapa? Hehehe, bisa saja setelah membaca, kalian muntah, enek, atau pusing, mual-mual. Berani mencoba???

Tulisan kali ini memang terlihat agak menjijikkan, tapi saya sering sekali mengalaminya! Dan berkali-kali!!!

Kadang saya suka geli sendiri. Karena itu saya putuskan untuk menuangkannya di blog tercinta ini. Berbagi rasa geli dan jijik buat kalian semua, hehehe. Siapa tahu dibalik jijik itu bisa menyumbang tawa :p.

Penyanyi cilik Errina

Setelah dipikir-pikir, muka saya ini pasaran kali, ya? Berkali-kali orang selalu dejavu melihat wajah saya yang lonjong dan agak tirus.

Kisah pertama dimulai dari ibu saya sendiri. Dulu, sewaktu zaman SD, saya nge-fans berat sama penyanyi cilik, salah satunya, Errina GD! Hayo, ada yang inget enggak? Karena begitu nge-fansnya saya sempat dibelikan kaset oleh ibu.



Sampai suatu hari, ibu saya berkata,"Eh, kamu kok mirip Errina GD, ya? Tinggal digemukin aja dikit!". Wakakakak, saya cuma kege-eran sambil cengar-cengir sendiri. Lebih tepatnya, bangga, sih! Hueek!

Nah, saking nge-fansnya, saya ikutan, lho, kirim surat ke Errina, minta tanda tangan plus fotonya! Yah, rasanya enggak mungkin dibales, sih. Kan, saat itu dia lagi ngetop banget.

Tak disangka tak diduga!!! Sekitar 8 bulan kemudian, saya girang meloncat-loncat! Surat saya dibalas Errina plus foto dan tanda tangannya. Saya pun pamer sama Ibu sambil memperlihatkan kartu pos bergambar wajah Errina GD. Yihaaa!!! Makinlah, saya pede kalau saya mirip dengannya.

Itu masih kisah awal, lho, masih mau baca? Atau sudah enek? Baca, aja, deh! Hehehe. Nanggung kalau enggak dilanjutin. Yuk, selanjutnya!

Sarmila

Lagi-lagi, ibu saya yang jeli menangkap kemiripan di wajah saya ini dengan para selebriti.

Ini mungkin efek karena beliau demen banget nonton sinetron! Padahal, ibu saya ini orang kantoran, lho bukan ibu-ibu rumah tangga. Pekerjaan enggak jaminan, yah, buat dapet lebel penyuka sinetron?

Dulu, sinetron di SCTV berjudul Sarmila yang diperankan oleh Hemalia Putri bener-bener lagi booming.



Sekedar mengingatkan, Sarmila itu sinetron tentang kehidupan wanita betawi. Nah, dia jodohin sama bapaknya buat nikah sama orang kaya. Yang jadi si bapak adalah Jaja Miharja dan ibunya, Camelia Malik. Hahaha, ternyata saya hafal juga!

Karena ibu saya penonton setia, dia pun hafal dengan wajah Sarmila. Eh, tahu-tahu, nyeletuk, lagi, "Wah, kamu lama-lama mirip Sarmila alias Hemalia Putri. Cuma sayang aja, hidungnya enggak mancung."

Wah, saya pun heran. Bisa-bisanya, ibu kepikiran saya mirip Hemalia Putri si Sarmila. Menurut saya, sih, yang mirip matanya doang, sama-sama sayu! Nah, kalau menurut kalian???

Saya adalah salah satu pemeran AADC?

Nah, pasti kalian enggak terima, nih, kalau judulnya begitu! Bukan saya yang ngomong, lho. Saya juga baru tahu dari senior waktu kuliah D3!

Jadi, waktu itu, selama 2 minggu mahasiswa baru (maba) wajib latihan teater. Latihannya, malam-malam di parkiran motor sambil gelap-gelapan. Mungkin biar enggak malu.

Saya semangat banget! Soalnya, bisa ikutan akting, hehehe. Tiba-tiba saya disuruh adegan jadi cewe yang diperkosa.

Aah, sayang, yang jadi pelaku enggak oke! Walaupun dia jago akting sih, cuma agak lebay! Untung enggak ada adegan buka baju. (dia mantannya temen saya, tuh, maap, yah!) Bagian yang ini sesungguhnya enggak penting saya tulis, cuma buat selingan :p.



Saya pun akting dengan maksimal. Hasilnya? Memuaskan, dong, walaupun akhirnya adegan itu dibatalin dan enggak jadi pemeran utama, hahahaha.

Tapi, ada lagi, nih, yang bikin saya senyam-senyum sendiri. Sehabis latihan seorang senior menghampiri saya. "Eh, Nis, kok, loe mirip Ladya Cherryl, yah? Beneran mirip!" kata si senior saya.

Gubraaaak (dalem hati sih ge-er, hehehe). Lalu, saya stay cool," Ah, masa, sih? Yah, kebetulan kali." Langsung, deh, saya malam itu ketawa-ketawa sendiri.

Sebenarnya saya langsung sadar diri dan berpikir keras kenapa dibilang mirip artis itu. Jangan-jangan dibilang mirip Ladya Cherryl gara-gara si senior melihat saya dalam kegelapan. Huahahahhahaahahahaha.

Nah, baru-baru ini saya berhasil ketemu Ladya Cherryl di depan muka. Tentu saja, ini karena liputan. Langsung, dong, ingat dengan kata senior yang dibilang mirip itu. Saya pun tak menyia-nyiakan foto bareng. Habis itu, saya nyesel, yah, kok, keliatan banget yah, mana yang terawat, kinclong dan tidak??? Ya, enggak, sih?

Catatan Si Boy

Mirip sama pemeran Onky Alexander? Oo bukan dong! Kali ini, supir taksi yang kocak mulai ngelawak. Jadi, waktu itu saya pulang malam naik taksi. Di perjalanan, Pak Supir ini ngoceh melulu, untung ocehannya enggak garing.

Si Pak supir tiba-tiba nanya umur saya berapa. Karena saya ingin tahu muka saya tuir atau enggak, saya minta dia menebak. Hehehe, kata Pak Supir saya kayak masih 19 tahun. Senangnya!!!

Eh, tiba-tiba dia nyeletuk, "Eh, mbak kok mirip Paramitha Rusadi, ya?" Gubraaak! Jadi muka saya muda tapi jadul, begitu Pak? Saya pun ngakak enggak karuan.


Pemeran AADC lagi!!!

Nah, lho, kok AADC lagi? Kalau ini yang versi sinetron. Waktu itu, saya pergi ke kantin Kampus Esa Unggul. Tujuannya, apalagi kalau bukan makan! Mata saya langsung tertuju ke Warung Mpok Diah.

Sambil basa-basi, saya pesan makanan dan ngobrol sebentar sama Mpok Diah. Eh dia ngeliatin saya serius,"Mba, mirip Ririn yang main sinetron!".



Saya bereaksi,"Haa? Ririn Dwi Aryanti?"
"Iya, yang main sinetron itu, lho," kata Mpok Diah.

Gileee, banyak benar selebritis yang mukanya mirip saya, yah? Hehehe, makasi, yah, Mpok Diah! Mungkin saya cocok jadi kembarannya Ririn.

Bak Super Model!

Iih, sebelum saya tulis lebih jauh, pasti kalian enggak terima kalau saya dibilang mirip sama model cantik ini. Saya yakin kalian akan mencaci maki, hahaha. Yah, boleh-boleh saja yang penting, kan, yang pertama kali bilang mirip bukan saya, wekekekek.

Oh, iya, kalau sudah enggak tahan boleh berhenti sampai di sini, loh, bacanya. Hahaha... Yang masih mau, ayoo, lanjut!

Seperti biasa, setelah liputan, saya mentrasfer foto-foto ke laptop. Saat lagi memandangi si cantik, saya kurang puas dengan fotonya.

Akhirnya, saya ke tempat teman saya yang notebene adalah seorang fotografer dan sama-sama mengambil gambar si cantik.

Wah, hasil jepretan sang fotografer memang lebih pas. Kami pun sama-sama melihat si cantik dan memujinya. "Cantik bener, nih, orang!" kata saya.



"Eh, Nis, nih, yang foto ini, si Mariana, mirip lu, yak?" kata si fotografer. Belum sempat saya tertawa, eh dia ngomong lagi,"Dari samping doang, lho, itu juga dikit, jangan ge-er dulu!" balasnya.

Siaaal, belum juga saya terbang dia sudah menimpal begitu, hehehe. Saya tambahin,"Berarti gue ada bakat, kan cantik, walaupun dari samping, belum ke asah aja, wekekekek!"

Si fotografer itu pun menyesal dengan ucapannya. Hahaha, bodo amat, yang penting dia ngomong duluan MIRIP MARIANA RENATA walaupun dari samping, wikikiki.

Kesimpulannya saya mirip...

Akhirnya, tiba juga di penghujung tulisan. Sudah mual dan enek? Hehehe... Sebenarnya, masih ada lagi, nih, beberapa artis yang dimirip-miripkan saya. Tapi, yang yang terakhir ini saya mirip dengan artis sinetron yang saya pun tak tahu siapa.


Ini, nih, Mariana tampak depan

Kira-kira seminggu yang lalu, saya ke salon mau potong rambut. Waktu rambut saya diblow, si mbak ini nanya sambil senyum-senyum, "Mba, habis syuting, yah? Sering syuting film sinetron?"

"HAAA??? Tahu dari mana, mbak?" kata saya seolah-olah kaget dia tahu saya habis syuting hahaha.

"Yah, pokoknya, sering syuting, kan?" tanya si mbak itu lagi sambil meyakinkan saya. Aduh, beneran saya enggak tahan pengen ketawa.

"Enggak, mba, salah orang. Mirip, kali. Emang muka saya pasaran, yah?" tanya saya polos.

Si mbak ini masih ragu-ragu dengan jawaban saya. Selanjutnya, dia berusaha meyakinkan temannya yang ada di resepsionis kalau saya bukan artis. Tapi, rupanya teman-teman dia yang di resepsionis malah tambah enggak percaya sambil cekikikan.

Saya coba tanya, mirip siapa, eh dia malah senyam senyum terus bilang,"Yah, pokoknya sering main sinetron." Ada-ada saja.

Begitulah sekelumit kisah yang pernah saya alami, bermuka pasaran ala selebriti. Memang begitulah adanya, walaupun muka saya pasaran, saya bersyukur karena disejajarkan dengan artis-artis ternama. Hahahahahhahaha......


Yang ini baru asli foto saya! Mirip siapakah?

Oh, iya, silahkan dilihat-lihat fotonya, adakah yang mirip? Kalau enggak yah berarti kesalahan ada pada orang yang menyebut saya mirip, bukan salah muka saya! Hehehe...

Jumat, 11 Maret 2011

It's Amazing 26th!

Begitu cepatnya waktu berlalu
Tak sempat aku bangun dari tidur, waktu sudah berlari

Perlahan ku buka mata yang lengket ini
Aih, aku ingin menutupnya kembali

Semua masih sama
Dia masih ada!Tak ada yang berubah
Entah aku yang bodoh atau apalah namanya

Pelarianku pun tak kunjung bertambah
Entah terlalu takut melangkah atau diam adalah pilihanku sendiri
Mungkin Tuhan bingung melihat hambanya yang tak pernah bisa menapak bumi

Maju satu langkah, mundur satu langkah
Tak ubahnya seperti undur-undur
Aah, kuputuskan untuk tak mengingat hari jadi
Sebab aku pun tak tau kemana arahnya

Tapi, ternyata aku keliru
Mataku terlalu rapat dan basah untuk melihatnya
Aku tak melihat ada cahaya kunang-kunang yang datang bergantian

Sebuah kejutan manis untukku
Sebuah lilin dan sekotak kecil kue tar bermandikan cokelat datang menghampiri
Mereka ada, mereka nyata!!! Mereka merayakannya!
Tiba-tiba mataku terbelalak
Yah, aku merasa lebih hidup!!! Ini adalah kehidupanku yang baru!
Aku punya harapan, aku tak boleh terus menerus di kayangan dan berangan
Mereka mencintaiku...

Yang jelas, aku tak seburuk yang aku pikirikan
Mereka menilaiku dengan baik, kenapa aku harus pasrah melipat mimpiku?
It's amazing 26th! Thank you to all of people who wake me up on 26th!

Minggu, 09 Januari 2011

2011 Is An Execution Year!

Tak terasa tak berujung, 2011 telah datang! Sudah 9 hari berjalan dari awal tahun 2011. Tentu sebagian atau mungkin kebanyakan orang akan merenung tentang apa saja yang sudah dilakukan dan belum dilakukan. Count me in! I'm one of them!

Meskipun tidak benar-benar saya tulis dan niatkan sepenuh hati, tiap tahun memang selalu ada keinginan. Tapi, untuk tahun ini, saya ingin berbeda. Saya ingin tulis dengan jelas mimpi-mimpi itu! Karena saya tak mau mengubur mimpi itu lagi.

Wahai alam semesta dengarkan dan peluk mimpi saya!

1. Goal S2 di luar negeri, Australia, London, Belanda, Amerika
2. TOEFL 600
3. Punya 12 cerpen minimal dalam setahun dan diterbitkan ke nulisbuku
4. Bisa bikin tulisan fiksi untuk Kidnesia.com
5. Punya teman atau koneksi wartawan lebih dari 10!
6. Segera dipertemukan dengan Future Husband!


Saya ingin bertemu dengan future husband yang takut sama ALLAH SWT, SETIA, HUMORIS, PENYAYANG, sayang sama keluarga saya juga!, romantis juga, deh! Terus bisa nemenin hasrat saya yang ambisius bisa backpack atau jalan-jalan keliling Indonesia atau ke luar negeri! Yihaaa...


7. Mau ikutan Operet Bobo! Jadi salah satu pemeran! Amien
8. Bikin video reporter untuk NOS! Salah satu misi biar bisa muncul di tipi.
9. Mau jadi anchor, presenter!
10. Jadi reporter beneran, punya banyak koneksi dengan PR pokoknya harus lebih dari 2010
11. Kalahkan Hantu Pipiyot dengan persaingan sehat!
12. Hubungan saya dan keluarga lebih harmonis, dinamis dan tidak krisis
13. Backpacker atau mungkin apa yah sebutnya, ga terlalu backpacker juga it's oke, sih. Ga mau juga disebut sok-sok backpaker. Syukur-syukur dapet gratisan! Ke Lombok, ke Hongkong, ke Australia, sama Universal Studio!
14. Mau lebih merawat diri biar tambah cantik! Ahahaha...
15. Belajar fotografi! Harus bisa buat foto berkualitas!
16. Punya penghasilan tambahan diluar kerja jadi pegawai, amin

Ini dia salah satu hasil jepretan favorit saya di Situ Patenggang, Bandung


Fiyuuuuh, banyak banget, yah! Tapi enggak masalah, lah. Semua itu harus bisa dicapai, paling enggak jadi termotivasi menuju ke arah sana. Oh, iya yang jadi prioritas utama di tahun ini adalah GOAL BEASISWA S2 bersama seperangkat alat-alat lainnya, seperti TOEFL!

Insya Allah, semua ini bisa tercapai di tahun 2011! Amin!!!!